WALINKI ID | Kenaikan laba Holding BUMN Farmasi, gabungan dari Bio Farma, Kimia Farma, dan Indofarma, tak terlepas dari peningkatan pendapatan konsolidasi selama kuartal I 2022, yakni Rp 7,1 triliun.
Holding BUMN Farmasi mencatat perolehan laba 234 persen pada akhir Maret 2022 dibanding RKAP tahun ini. Namun, bila dibandingkan Maret 2021, perolehan laba tersebut hanya tumbuh 29 persen.
Baca Juga:
KAI Layani 11,8 juta Pelanggan Selama Masa Angkutan Lebaran 2025
"Dengan kondisi di mana penugasan-penugasan untuk pandemi covid-19 sudah mulai turun," ungkap Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) selaku induk Holding BUMN Farmasi Honesti Basyir dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR, dilansir Antara, Senin (23/5).
"Pencapaian kami 99 persen dibandingkan target kuartal I 2022 sebesar Rp7,14 triliun. Kalau dibandingkan periode sama tahun lalu, (pendapatan) kami bertumbuh 18 persen," katanya.
Peningkatan pendapatan Bio Farma sendiri berasal dari penugasan vaksin pandemi covid-19, yakni Coronavac, hingga sebesar Rp1,66 triliun.
Baca Juga:
PELNI Catat Jumlah Penumpang Mudik Lebaran 2025 Melebihi Tahun Sebelumnya
Selain itu, Bio Farma juga mulai menjajaki pasar ekspor yang pada Maret 2022 tercatat sebesar Rp840 miliar.
"Bio Farma merupakan kontributor utama vaksin polio bagi pasokan global di mana lebih dari dua pertiga pasokan vaksin polio global diproduksi oleh kami dan didistribusikan melalui WHO dan UNICEF," terang Honesti.
Kemudian, untuk Kimia Farma sampai kuartal I 2022 mengantongi pendapatan 78 persen dari RKAP. Angkanya turun tipis 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.