Konsumen.WahanaNews.co | Buku panduan (white paper) rupiah digital sebagai respons perkembangan aset kripto, akan dirilis Bank Indonesia (BI).
"Aset kripto menimbulkan sumber risiko baru yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi, moneter, dan sistem keuangan," ungkap Deputi Gubernur BI Doni P Joewono dalam Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) 2022 di Bali, Selasa (12/7).
Baca Juga:
Bulan Ramadan, Bank Indonesia: Saldo Uang Layak Edar (ULE) di Kas Titipan Kota Sorong Saat Ini Sebesar Rp279 Miliar
Untuk mengantisipasi risiko itu, BI terus mengembangkan rupiah digital atau Mata uang digital bank sentral atau Central Bank Digital Currency (CBDC).
"Keberadaan aset kripto melatarbelakangi bank sentral dalam menjajaki desain dan penerbitan CBDC," terang Doni.
Karenanya, BI akan merilis white paper terkait pengembangan rupiah digital pada akhir 2022.
Baca Juga:
Survei BI Februari 2025: Keyakinan Konsumen Terhadap Ekonomi Tetap Kuat
Doni menjelaskan buku panduan itu berisi beberapa hal, seperti desain atau konsep digital rupiah.
"Berbagai bank sentral berhati-hati dan terus mempelajari kemungkinan dampak dari CBDC tersebut, termasuk Indonesia. BI terus mendalami CBDC dan akhir tahun ini berada pada tahap untuk mengeluarkan white paper pengembangan digital rupiah," terang Doni.
Ia memaparkan terdapat enam tujuan dalam menerbitkan rupiah digital. Pertama, menyediakan alat pembayaran digital yang bebas risiko.