PT Pertamina (Persero) memiliki utang jangka pendek mencapai US$15,89 miliar atau setara Rp244,05 triliun (asumsi kurs Rp15.359) per Desember 2021. Hal tersebut diketahui dari laporan keuangan terakhir yang dirilis oleh perusahaan.
Sedangkan, utang jangka panjang Pertamina mencapai US$28,83 miliar atau setara Rp442,81 triliun. Dengan begitu, total utang perusahaan mencapai US$44,72 miliar atau setara Rp686,73 triliun.
Baca Juga:
Pertamina Pastikan Ketersediaan dan Kelancaran Distribusi Energi Selama Idulfitri 2025
Utang pada 2021 ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tercatat pada 2020 jumlah liabilitas Pertamina hanya mencapai US$37,88 miliar. Jumlah itu terdiri dari utang jangka pendek sebanyak US$10,69 miliar dan utang jangka panjang US$27,19 miliar.
CNNIndonesia.com berupaya menghubungi VP Corporate Communications Pertamina Heppy Wulansari untuk meminta keterangan terkait bagaimana strategi perusahaan dalam menangani utang tersebut. Namun, pihat yang bersangkutan belum memberikan respons.
Garuda Indonesia
Baca Juga:
Ini Daftar Promo Spesial Idulfitri dari Pertamina Patra Niaga
Nilai utang PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk memang turun dari US$10,1 miliar sebelum restrukturisasi, menjadi US$5,1 miliar setelah restrukturisasi.
Namun, angka ini masih bisa dibilang tinggi. Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan pihaknya akan terus berupaya menekan utang dengan melakukan optimalisasi rute. Salah satunya dengan meningkatkan pangsa pasar domestik hingga 18 persen pada 2022.
Target pangsa pasar domestik ini meningkat dibandingkan tahun ini yang hanya 14 persen. Menurut Irfan, pangsa pasar domestik ini dapat memberikan untuk yang lebih besar dibandingkan pasar internasional.